Himpitan luka yang dalam telah menyayat hati, namun ku tak mau menyerah dengan keadaan itu, kembali ku berdiri dari timbunan kegelisahan dengan seonggok kecil kesabaran ku berdiri.
Tak lama berselang semua terungkap dari ukiran pedih jari jemarinya, dan ketika ku membaca isi kandungannya yang saat itu aku mulai tangguh dengan seonggok kecil kesabaran, kini porak poranda bagai di terpa badai. Terpaku dan membisu tak sanggup berkedip dan mulai turun derasnya air mata kesedihan karena menguap nya fakta pahit.
Kembali teman setiaku merangkulku mengulurkan tangan indahnya, iya.. kesabaran adalah teman setiaku akhir akhir ini. Tak terasa air mata semakin deras menuruni bukit kedua mataku ini, lemas.. kutak sanggup berdiri tegap. Sebuah pertanyaan kecil terlontar dari mulut saudara kandungku, “ada apa..? “ tanpa menjawabnya ku memalingkan muka dan bersandar di dinding yang seakan memberikan bahunya untuk ku bersandar dan mendengarkan semua keluh kesah ku.
Kubertanya kepada hati kecilku yang memandangku dengan terkaca kaca, “apa ini akhir dari semua pengharapanku, berakhir secepat ini..?” hati kecilku hanya bisa menunduk tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dan lagi lagi teman setiaku menyentuh dadaku dan gerakan kecil darinya mulai menenangkan emosi ku.
Kini ku hanya bisa menanti, berharap masih ada lubang kecil kesempatan yang bisa ku gali agar aku bisa terperosok kembali di lubang hatimu dan kembali memanggilmu “Tinky” sebuah kata kecil yang menggambarkan semua kenangan dari nya.
Dengan kerendahan hati, teman setiaku menghapus air mata yang turun, seakan dia berkata “jangan sedih, seharusnya kau senang karena kau mendapat pelajaran dari ini”. Dengan senyum kecil ku membalas kata emas dari teman setiaku.
